(Source: lovequotesrus)
“Speak the Truth.” [al-Qur’an, 3:17]
“Speak straight.” [al-Qur’an, 33:70]
“Speak justice.” [al-Qur’an, 6:152]
“Speak kindly.” [al-Qur’an, 2:83]
“Speak politely.” [al-Qur’an, 17:53]
“Speak fairly.” [al-Qur’an, 17:28]
“Speak gently.” [al-Qur’an, 20:44]
“Speak graciously.” [al-Qur’an, 17:23]
“Speak not in vain.” [al-Qur’an, 23:3]
“Speak no lie.” [al-Qur’an, 22:30]
oh.
itulah, yang selalu kita rasa,
bila kita rasa down dengan hidup ini.
bila kita tak dapat apa yang kita nak.
bila apa yang kita rancang, tak menjadi,
bila apa yang kita harap, jadi sebaliknya.
dush* dush*
rasa macam kena hempap batu besar.
rasa aja kan?
bilal bin rabah, batu besar…
akuilah,
itu bukan benci.
itu cuma penafian.akuilah,
kamu bukan lari,
tapi membawa diri.akuilah,
kamu bukan pengecut yang mengalah,
tapi cuma manusia yang berserah.fahamilah,
ada hakikat yang tak terlihat.
Dear Brain, sorry for overloading you with thoughts of him.
Dear Tummy, sorry for all the butterflies.
Dear Pillow, sorry for all the tears.
Dear Heart, sorry for all the damage.
Terasa ingin menjerit,
Memberitahu pada semua,
Betapa aku sudah terlalu perit,
Hidup dalam muslihat dunia.Terasa ingin melaung sekuatnya,
Biar dunia tahu apa yang ku rasa,
Betapa aku ingin keluar dari kesempitan yang melanda,
Agar bisa ku kecapi tenang di jiwa.Terasa ingin memberitahu semua,
Betapa letih sudah aku dengan dunia,
Tetapi ku tahu cukuplah dengan ada Dia,
Untuk aku kongsi segala.Ingin ku cerita pada semua,
Bahawa aku telah hampir berputus asa,
Betapa kesibukan dunia telah memerangkap jiwa,
Tetapi di sebalik semua,
Masih ada ketenangan yang ku dapatkan dari Dia,
Untuk aku terus bangun dari kecewa.
dan bila kita menyayangi seseorang,
apa pun yang dia lakukan,
terkadang tak akan mengubah rasa sayang kita.dan bila kita menyayangi seseorang,
apa pun perlakuannya yang melukakan,
masih tak mengurangkan rasa sayang kita.kita pujuk hati,
“mungkin dia ada sebabnya sendiri, melakukan ini padaku”.itu lah kita,
bila menyayangi seorang manusia.
kita akan sentiasa berbaik sangka padanya.namun,
muhasabahlah kembali,
bila yang ‘menyakiti’ itu adalah takdir dari Ilahi,
mengapa mudahnya kita berprasangka?
bila yang menguji itu adalah Rabbi,
mengapa mudahnya kita berpaling dan berburuk sangka?
adakah kita lupa.
siapa yang lebih besar kasih sayangnya pada kita?
manusia atau DIA?adakah kita lupa,
siapa yang lebih patut kita percaya?
manusia atau DIA?





